Ketam Kenari, Krustasea yang Doyan Makan Kelapa?

Pernah dengar tentang kepiting darat terbesar di dunia dengan capit yang kuat nan gagah? Ialah ketam kenari.

Gambar 1. Ketam Kenari

(Sumber: Balai Taman Nasional Bunaken)

Coconut crab (Birgus latro) atau dalam bahasa Indonesia ketam kenari atau kepiting kelapa adalah jenis invertebrata terestrial terbesar di dunia dengan kemampuan untuk tumbuh mencapai lebih dari 1 meter dan berat 4 kg. Ketam kenari sebenarnya sangat berkerabat dekat dengan kelomang (hermit crabs) yang sama-sama termasuk dalam infraordo Anomura (Krustasea: Dekapoda). Namun, ketam kenari telah melalui evolusi yang membuat mereka menjadi organisme yang sangat berbeda. Ketam kenari dapat ditemukan pada atoll dan pulau-pulau tropis yang tertutup di wilayah Indo-Pasifik, termasuk Indonesia. Lokasi dijumpai ketam kenari di Indonesia meliputi daerah Sunda Kecil menuju utara seperti Ambon, Maluku dan sekitarnya.  

Kehidupan ketam kenari diawali dengan sebuah individu larva mikroskopik yang tinggal di laut, sebelum mereka bertransisi menjadi organisme terestrial. Pada saat juvenil, ketam kenari menggunakan cangkang kosong untuk melindungi diri seperti yang dilakukan oleh kerabatnya, kelomang. Seiring berjalannya waktu, ketam kenari akan tumbuh semakin besar sampai tidak ada lagi cangkang yang cukup untuk ukuran tubuhnya. Pada saat ini, ketam kenari mengalami re-kalsifikasi pada bagian abdomennya dan membuat sarang bawah tanah yang luas untuk melindungi diri di siang hari. Seringkali lubang-lubang yang mereka buat berada di dekat pohon kelapa.

Gambar 2. Ketam kenari yang baru saja membuka batok kelapa

(Sumber: Laidre, 2018)

Tidak mengherankan jika jenis krustasea ini memiliki diet berupa buah kelapa. Seperti namanya sendiri, coconut crab mampu membuka cangkang kelapa dan memakan buahnya sebagai makanan mereka. Tetapi, ketam kenari juga dapat memakan berbagai macam tanaman atau hewan lain karena sifatnya sebagai omnivora, seperti buah, kacang-kacangan, dan vegetasi. Hal ini sangat masuk akal dalam hal evolusi. Karena habitatnya yang sebagian besar berada di pulau-pulau kecil yang jauh, suplai makanan menjadi sangat terbatas dan tidak menentu. Bergantung pada hanya satu jenis makanan akan sangat beresiko untuk bertahan hidup. Ketam kenari juga mampu untuk membunuh mamalia dan burung. Bahkan, mereka dapat menempati posisi predator apeks di ekosistem tempat mereka hidup.

Kemampuan ketam kenari untuk memburu hewan yang lebih besar darinya tidak lain tidak bukan disebabkan karena capitnya yang sangat kuat, bahkan lebih kuat dibandingkan krustasea lainnya di bumi. Kekuatan capitan ketam kenari diperkirakan mencapai 300 Newton, melebihi sebagian besar predator darat. Kekuatan sebesar itu digunakan oleh ketam kenari untuk membantu membuka batok kelapa. Namun, masih belum ada penjelasan mengenai bagaimana capit milik ketam kenari bisa berevolusi sehingga memiliki kekuatan yang sangat besar.

Gambar 3. Juvenil kepiting kelapa

(Sumber: Hamasaki et al., 2017)

Untuk mencapai ukuran yang sangat besar, ketam kenari dewasa butuh mengalami molting secara bertahap selama ia tumbuh. Sebenarnya, pertumbuhan pada ketam kenari sangat lama. Sebagian ketam kenari dewasa bahkan tidak tumbuh sama sekali atau mengalami penyusutan. Penyusutan dapat terjadi ketika mereka mengalami cedera atau kehilangan organ. Individu yang mencapai ukuran sangat besar diperkirakan sudah berumur sekitar 100 tahun. Secara umum, individu ketam kenari tidak akan mencapai ukuran dewasa sampai setidaknya beberapa dekade. Populasi ketam kelapa telah mengalami penurunan drastis atau punah di sebagian daerah. Rendahnya populasi ketam kenari disebabkan karena kerusakan habitat, predasi, spesies invasif, dan aktivitas eksploitasi ketam kenari oleh manusi. Karena waktu yang dibutuhkan untuk suatu individu beranjak dewasa sangat lama, pemulihan populasi ketam kenari juga membutuhkan waktu yang sangat lama. Saat ini, beberapa wilayah yang masih ditemukan banyak populasi ketam kenari diantaranya Kepulauan Chagos, Atoll Aldabra di Seychelles, Christmas Island, dan Atoll Palmyra.

Gambar 4. Perbedaan ukuran dua individu ketam kenari dewasa

(Sumber: Laidre, 2018)

Saat Charles Darwin pertama kali menemukan ketam kenari, ia pernah mengatakan:

I think this is as curious a case of instinct as ever i heard of, and likewise of adaptation in structure between two objects apparently so remote from each other in the scheme of nature, as a crab and a cocoa-nut tree.

 

Referensi

Forth, G. 2019. Ethnographic evidence for the presence of the coconut crab Birgus latro (Linnaeus, 1767)(Anomura, Coenobitidae) on Flores Island, Indonesia. Crustaceana., 92(8): 921-941.

Hamasaki, K., T. Tsuru, T. Sanda, S. Fujikawa, S. Dan and S. Kitada. 2017. Ontogenetic change of body color patterns in laboratory-raised juveniles of six terrestrial hermit crab species. Zootaxa., 4226(4): 521-545.

Laidre, M. E. 2018. Coconut crabs. Current Biology., 28(2): 58-60.


Andalusia Siti Nurazizah (MDC XXVIII)

 

Waspada Dira Anuraga!!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *