Senior Profile

Angka Mahardini

Sosok luar biasa ini memiliki nama yaitu Angka Mahardini yang merupakan wanita kelahiran Jember, Jawa Timur. Beliau merupakan Diaspora Indonesia atau Indonesia perantauan, yang pergi jauh ke negeri orang untuk mendalami pendidikan dan disiplin ilmu kelautan dengan fokus  mengenai molekular biologi dan genetika. Mba Angka bercerita bahwa hidup sebagai seorang Indonesia Perantauan di negeri orang memiliki banyak tantangan serta rintangan yang menurut beliau, salah satu kenapa dirinya dapat melewati hal tersebut adalah karena segala hal yang didapatkannya selama menempuh pendidikan sarjana yang secara spesifik adalah hal yang didapatkan dari Marine Diving Club (MDC) Universitas Diponegoro. Segala perjalanan dan pengalaman yang beliau dapatkan di MDC diawali dari suatu alasan ketertarikan yaitu saat menjadi mahasiswa baru ilmu kelautan tahun 2006 dan saat itu beliau melihat bagaimana image dari senior MDC yang sangatlah terlihat percaya diri dan sangat kekeluargaan. Sebagai seorang yang tidak terlalu percaya diri awalnya membuat beliau merasa bahwa di MDC dirinya dapat menjadi pribadi yang sama seperti senior-senior yang beliau lihat saat itu. Berdasarkan alasan tersebut akhirnya beliau bergabung sebagai MDC angkatan 14.

Selama di MDC beliau banyak mengalami suka duka, yang dimana harus memiliki manajemen waktu ekstra untuk memposisikan dirinya dalam kehidupan personal, organisasi, akademik dan sosial. Selama di MDC juga beliau merasa sangat belajar menjadi lebih baik, menambah wawasan , jalan-jalan yang asyik serta menemukan jati diri. Berdasarkan apa yang didapatkan di MDC, salah satunya menjadi latar belakang kenapa mba angka memutuskan untuk studi lanjut ke luar negeri karena motivasi dan mba angka melihat filosofi dan makna dari etos kerja pada senior MDC yang saat itu menempuh studi di Australia. Segala pelajaran yang beliau dapatkan di MDC terangkum hingga mendapatkan suatu prinsip bahwa dalam segala hal perlu usaha untuk cari dan eksplor sendiri terlebih dahulu. Karena apabila kamu belum tau dan hanya menunggu untuk diberi tahu maka kamu tidak akan mendapatkan apapun. Menurut beliau bahkan secara tidak langsung, MDC benar-benar memberikan beliau banyak pelajaran dimana saat fin swimming atau water trap pun akan terasa letih namun apabila diiringi dengan tekat untuk memperbaiki kesalahan hingga menjadi gerakan yang sempurna serta pikiran yang tenang, kita pasti sampai.

Berikutnya, beliau sedikit bercerita mengenai kehidupannya dalam menempuh jalan untuk menjadi seorang peneliti yang penuh lika-liku. Salah satunya dikarenakan meneliti di Indonesia itu sebenernya masih gamang definisinya serta iklim riset yang masih kurang. Berdasarkan hal tersebut beliau ingin lebih menghidupkan iklim riset di Indonesia dengan mempelajari suasana iklim riset di luar negeri. Berdasarkan tantangan dan tekat tersebut lagi-lagi tidak terlepas dari dirinya sebagai seorang MDC. Hal tersebut juga yang menjadi pesan untuk MDC dan para penerusnya bahwa anak mdc bisa jadi inspirasi tanpa harus menjatuhkan terus juga bisa ada dan berkembang ilmunya, update dengan isu-isu sekarang.

Khusnul Khuluk

Mas Khuluk adalah anggota Marine Diving Club angkatan 17, dengan nama keren Amblyglyphidodon. Pada awalnya, Mas Khuluk tidak ada niatan untuk mendaftar MDC, namun dikarenakan menerima tantangan dari teman-temannya untuk bergabung klub selam yang terkenal keras ini, Mas Khuluk akhirnya mengikuti rangkaian recruitment MDC dan resmi menjadi anggota MDC 17. Selama proses recruitment, banyak sekali kenangan yang diingat Mas Khuluk selain berenang till drop di Kodam. Mulai dari berangkat ke Pulau Genting untuk melaksanakan Corallium naik perahu sopek, hingga banyak kejadian mistis yang mewarnai pengalaman Angkatan 17. Mas Khuluk dan Angkatan 17 juga sempat menjadi panitia pernikahan Mas Farid (MDC 7) yang dilaksanakan underwater!

Selama masa perkuliahan, Mas Khuluk tidak hanya menuntut ilmu seperti mahasiswa pada umumnya, namun Mas Khuluk juga sambil bekerja di daerah pesisir sebagai nelayan lho! Meskipun demikian, Mas Khuluk masih menyempatkan waktunya untuk aktif berorganisasi di MDC. Kerja kerasnya tentu terbayarkan karena sekarang ini, proyekan offshore dan pekerjaan Mas Khuluk sebagai commercial diver diperoleh dengan bantuan relasi dari senior di MDC. Kemampuan selam yang diasah Mas Khuluk juga telah membawanya ke berbagai pelosok di Nusantara, mulai dari kepulauan Sulawesi, Kalimantan, Lampung, Pulau Karimata, hingga perairan Raja Ampat.

Pesan Mas Mas Khuluk bagi pengurus dan adik-adik MDC adalah untuk lebih adaptable atau mudah beradaptasi, baik itu dengan lingkungan, perkembangan keilmuan maupun dengan perkembangan teknologi. Selain itu, hilangkanlah senioritas karena MDC adalah keluarga, dimana seharusnya kita saling merangkul satu sama lain. Terakhir, Mas Khuluk berpesan kepada pengurus untuk selalu memperbaharui dan memperbaiki database MDC 😊

Farid Nahdi

Hello Buddies , hayo tebak siapa profil senior yang satu ini? YA! Mas Farid Nahdi. Mahasiswa lulusan Universitas Diponegoro, angkatan MDC ke-7. Dalam kesuksesannya menjalani bidang Commercial Diving,Pertamina di hulu energi,dan warung makan bertema arabian food, mas Farid ini memiliki kenangan dan pengalaman dimana bisa membawanya sampai se-sukses sekarang ini.Dalam ceritanya, dulu mas Farid pernah masuk komunitas yang dinamakan MDC (Marine Diving Club).Alasan mas Farid masuk MDC ini karena mas Farid suka melihat senior 97 memakai seragam MDC yang keren,sehingga mas Farid tertarik untuk ikut bergabung dalam komunitas MDC. Sebelum diterima sebagai anggota MDC, mas Farid menjalani kegiatan OPREC( open recruitment ) yang mana kegiatan ini menguji mas Farid sebagai kelayakan dalam penerimaan anggota MDC yang mana menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi mas Farid.Di MDC mas Farid diterima menjadi anggota MDC ke-7 dengan nama keren StarFish ,yang mana nama tersebut membawa arti dan membuat motivasi tersendiri untuk berjuang di MDC.Pada MDC ini mas Farid memiliki banyak pengalaman dan kenangan yang tak terlupakan salah satunya kegiatan expedisi coralium dimana mas Farid harus berjuang disaat cuaca yang ekstrem, hingga mencari dana yang mana mas Farid harus mengambil inisiatif untuk berjualan ,menjaga parkiran,hingga menjaga WC pun dilakukan oleh mas Farid dan teman-teman seangkatan MDC pada waktu itu dalam mencari dana demi berlangsungnya acara MDC,serta pengalaman yang tak telupakan lagi yaitu kegiatan akad nikah di dalam air yang mana merupakan kegiatan yang sangat langka sehingga mas Farid mendapatkan penghargaan muri.Kegigihan,keberanian,keinisiatifan, dalam berproses di MDC inilah yang membawa mas Farid menuju kesuksesan dalam bidangnya sekarang ini.Mas Farid berharap komunitas MDC dapat mengikuti perubahan zaman dimana tidak hanya mengutamakan kreativitas dan tidak mengutamakan pada hal pengajaran kepada juniornya dengan konsep senioritas,tetapi lebih ke arah kekeluargaan. Supaya ide dan kreativitas junior dapat dikembangkan dan direalisasikan dengan mudah karena tidak dalam tekanan seniornya.

WASPADA DIRA ANURAGA!

Fabian Pandji Ayodya

Hello Buddies! Hayo tebak siapa profil senior yang satu ini? YA! Mas Fabian Pandji Ayodya, MDC 22. Dalam kesuksesannya menjalani bidang Reproduction and Conservation of Tropical Marine Fisheries, Mas Fabian memiliki masa kenangan nih di MDC yang membuatnya bisa se-sukses sekarang ini. Sebelum masuk MDC ini, Mas Fabian memiliki kegemaran dalam bidang ilmu biologi dan juga suka berenang. Setelah masuk UNDIP di jurusan ilmu kelautan, kebetulan pada saat itu MDC sedang mengadakan rekrutmen,dari sinilah Mas Fabian mengumpulkan niat untuk bergabung di MDC, yang mana MDC ini terfokus pada penyelaman ilmiah dan konservasi. Menurutnya, inilah kesempatan yang harus diperoleh, karena klub ini sangat cocok dan memang MDC adalah klub selam yang tidak main-main dalam menekuni hal yang selaras dengan kegemarannya yaitu ilmu biologi dan berenang. Di MDC ini, Mas Fabian memiliki nama keren yang biasa dipanggil Goniastrea, dan tergabung di MDC 22 yang memiliki nama juga yaitu Megaptera 22. Dari sinilah dimulainya persahabatan, kebersamaan hingga menjadi suatu kawanan yang tak terpisahkan hingga sekarang ini. Dari angkatan Megaptera 22 ini memiliki semboyan kata-kata yang tak terlupakan “we don't want to be the best, but, we always do our best”. Setelah menjalani dan mengemban amanah di MDC ini, Mas Fabian mendapatkan banyak sekali manfaat salah satunya mengembangkan ilmu biologi dan kegemarannya dalam berenang, serta memiliki ikatan yang kuat di dalam keluarga MDC. Dalam menjalani proses, untuk teman-teman MDC ini Mas Fabian mengatakan,“ proses memang sulit tetapi hasil yang didapat tidak sesempit apa yang dibayangkan, akan ada banyak ranting yang berguna untuk dipetik dan digunakan, gunakan ranting ini didalam hidup sehari2 maupun bekerja”. Baginya MDC ini merupakan club yang istimewa selain bisa mengembangkan ilmu ,di MDC juga Mas Fabian memilki banyak teman dan banyak cerita yang selalu akan menyenangkan ketika diceritakan, sampai kapanpun. Mas Fabian berharap,MDC dapat terus memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar.

WASPADA DIRA ANURAGA!

Nenik Kholilah

Nenik Kholilah adalah anggota Marine Diving Club angkatan 21 yang memiliki nama keren Lutjanus. Mbak Nenik lahir di Kabupaten Semarang pada tahun 1994. Mbak Nenik punya hobi main, nih buddies. Kalau dilihat dari hobi Mbak Nenik juga berkaitan sama alasan ia masuk MDC yaitu supaya bisa jalan-jalan gratis, wahhh asik ya!

Mbak Nenik bercerita kalau keuntungan masuk MDC itu bisa mendapatkan teman baru dari berbagai wilayah di Indonesia yang nantinya dapat menjadi relasi di masa depan, mendapatkan pengalaman baru dengan ikut kegiatan penyelaman ke banyak tempat di Indonesia, belajar banyak hal tentang manajemen waktu, dimana kegiatan di MDC banyak tetapi kewajiban kuliah tetap harus dijalankan, ya buddies! Selain itu, juga bisa mendapat pengalaman organisasi yang sangat berguna di dunia kerja. Banyak sekali ilmu yang didapatkan Mbak Nenik dari MDC dan bisa diterapkan di dunia kerja seperti manajemen waktu, kepanitiaan, kedisiplinan, tanggung jawab serta ilmu selam dan identifikasi karang yang masih terpakai juga untuk beberapa kegiatan di dunia kerja.

Selama tergabung dalam keanggotaan MDC, Mbak Nenik memiliki pengalaman yang dikenang tetapi tidak ingin diulang yaitu pengalaman saat LPT di Pulau Panjang dimana Mbak Nenik menjalani push up “ribuan kali”, tidak mandi air tawar selama 3 hari, tidur beralaskan pasir dan beratapkan langit serta melakukan push up pohon. Pengalaman itulah yang dikenang Mbak Nenik dan dapat diceritakan kembali di masa depan bersama dengan teman seperjuangan Mbak Nenik.

Kesibukan Mbak Nenik akhir-akhir ini yaitu menjadi Admin Program Liga Kampus Merdeka (PKKM), S1 Ilmu Kelautan, UNDIP, Asisten Peneliti Prof. Dr. Ir. Diah Permata Wijayanti dan Asisten Peneliti Dr. Drs. Subagiyo, M.Si.

“Semoga MDC dapat tetap menjadi wadah bagi anggotanya untuk mengembangkan kretifitas dan inovasi, sehingga dapat berguna bagi masyarakat dan lingkungan.”

– Mbak Nenik Kholilah, MDC21

Mochamad Iqbal Herwata Putra

Mochamad Iqbal Herwata Putra yang memiliki nama keren Hemigymnus merupakan anggota Marine Diving Club angkatan 18. Mas Iqbal lahir di Tasikmalaya pada tahun 1992. Basket, memasak dan main musik adalah hobi dari kakak yang satu ini. Mas Iqbal bercerita alasannya tertarik untuk masuk MDC adalah karena Kang Agus MDC angkatan 16 menceritakan banyak hal mengenai MDC, hingga Mas Iqbal dan temannya satu perkumpulan daerah yaitu Mbak Evi dan Mas Akbar memutuskan untuk mendaftar open recruitment MDC.

Mas Iqbal mengatakan kalau keuntungan mengikuti MDC banyak sekali dari yang sangat umum hingga khusus. Kentungan secara umum yang didapatkan adalah dapat belajar berorganisasi, mengelola sebuah project serta membangun etos kerja. Kentungan khususnya adalah mendapatkan wadah yang positif untuk berbagi, support system selama berkuliah karena MDC organisasi yang kuat akan kekeluargaannya, serta belajar keterampilan ilmiah dalam monitoring biodiversitas ekosistem. Melalui MDC Mas Iqbal juga belajar gimana cara planning suatu project, eksekusi hingga evaluasi serta leadership nya yang menurutnya sangat berguna dalam dunia kerja. Mas Iqbal juga mendapatkan role model senior untuk belajar dan mendapatkan inspirasi to do list hal-hal yang ingin dicapai. Saat ini pekerjaan senior sangatlah beragam jadi banyak tempat untuk bertanya tentang latar belakang bidang kerja yang diminati serta berkesempatan mendapat kepercayaan untuk dilibatkan dalam project-project mereka. MDC juga mengajarkan tentang diving dan monitoring yang dapat menjadi dasar kita untuk bisa masuk ke dunia riset sebagai peneliti maupun praktisi konservasi.

Selama tergabung dalam keanggotaan MDC, Mas Iqbal punya pengalaman yang sangat mengesankan yaitu pengurus MDC pada kala itu berhasil menyelenggarakan dua Ekspedisi Caretta di dua lokasi yang berbeda pada tahun yang sama. Ekspedisi Caretta sekitar tahun 2013 itu diadakan di Taman Nasional Komodo dan TWA Riung NTT. Berbekal nekat, dana kas, keuntungan reef check yang terbatas serta kontak Taman Nasional Komodo, Mas Iqbal dan rekannya Mas Julian berangkat dari Semarang menuju Labuan Bajo dan menginap di rumah senior yang kebetulan sedang dinas di sana. Sesampainya di sana Mas Iqbal dan rekannya berusaha menawarkan proposal sponsorship untuk disupport ekspedisi ini. Semacam keajaiban Taman Nasional Komodo telah memiliki kegiatan yang bisa diikuti oleh Mas Iqbal dan rekan-rekannya. Pengalaman perjalanan dan hasil dari usaha yang dilakukan itulah yang sangat berkesan bagi Mas Iqbal.

Saat ini Mas Iqbal sedang memimpin program Elasmobrach and Charismatic Species di Conservation International Indonesia, yang membantu pemerintah pusat dan daerah dalam menyusun strategi serta implementasi konservasi spesies Elasmobrach dan karismatik lainnya.

“MDC adalah sekarang mereka yang menahkodainya. Jadi lihatlah sebelumnya sebagai pembelajaran. So be yourself jangan melihat dulu kita lakukan apa, kalian lantas lakukan hal yang sama. Setiap generasi berbeda.”

– Mas Iqbal Herwata, MDC18

Derta Prabuning

Derta Prabuning merupakan anggota Marine Diving Club angkatan “Selusin” (12), dengan nama keren Acanthurus. Hal utama terkait MDC yang menarik perhatiannya adalah baju kedinasan yang dia anggap mistis atau mempunyai sebuah daya tarik. Hal ini terjadi karena saat itu, sebagai mahasiswa semester awal, sering melihat para anggota MDC secara kompak memakai baju kedinasan. Semenjak itu lah, Mas Derta bulat memutuskan untuk mendaftar namun mencoba menikmati proses rekrutmen di MDC. Proses rekrutmen yang panjang, tidaklah mudah, mengatasi rasa lelah, bahkan harus mempertaruhkan nilai akademik yang merupakan sebuah masa depan. Proses panjang yang kemudian mengajarkan Mas Derta untuk berani mengambil keputusan dan bertanggungjawab atas pilihan.

Pengalaman di MDC sangat tertanam, pentingnya ilmu manajerial, sebuah soft skill penting untuk dimiliki. yang kemudian memberikannya kesempatan-kesempatan menarik setelah lulus dari Kelautan. Mas Derta berkesempatan menjelajahi lautan Indonesia, juga berkesempatan mengunjungi beberapa negara untuk kepentingan kelautan dan perikanan, salah satunya berkesempatan ke New York pada tahun 2013! Juga kenangan manis, keliling Laut Sawu bersama adik-adiknya di MDC pada tahun 2015-2016

Bagi Mas Derta, memiliki tujuan yang jelas merupakan salah satu hal yang paling penting dalam sebuah pekerjaan dan juga dalam hidup, karena tujuan akan mendorong kita untuk selalu fokus mencapai. Mas Derta juga baru menyelesaikan pendidikan S2 di IPB tahun 2020, dan saat ini sedang mensupervisi tiga program di Flores Timur, Laut Sawu, dan Raja Ampat!

Pesan Mas Derta bagi pengurus dan adik-adik MDC adalah untuk lebih mendalami kemampuan analisa dan intepretasi data karena hal non analitik yang bersifat rutinitas suatu saat akan digantikan oleh teknologi/robot. Selain itu, kemampuan dalam membungkus dan memaparkan hasil analisa data juga harus dikembangkan! Waspada Dira Anuraga.

Dr. Sc. Anindya Wirasatriya

Dr. Sc. Anindya Wirasatriya, alumni MDC angkatan ke-4. Motivasi awal masuk mdc itu beliau mengatakan bahwa jaman dulu itu, dunia penyelaman belum populer. Karena blm populer, beliau ingin biar beda dari yg lain sehingga menjadi tambahan ilmu selain ijazah. MDC di tahun itu dikarenakan masih awal-awal dan masih merintis, kegiatan besar pun belum ada, kegiatan terbesar hanyalah Reef Check di Karimun Jawa (belum sebesar saat ini). Pengalaman seru dan menarik selama bergabung ke MDC ada pas LKK dan LPT, saat pertama kali ke laut dan mengidentifikasi ikan, namun ikan yang diidentifikasi itu salah penamaannya lalu ditegur oleh senior. Karena baru pertama kali turun, jadi orientasinya masih panik dan belum terbiasa.

Terus terang, beliau tidak mengaplikasikan selam secara langsung. DIkarenakan saat lulus kuliah dan kerja, pekerjaan beliau tidak berhubungan langsung ke selam, namun beliau mengatakan bahwa seorang diver itu pasti akan menyelam ke laut. Beliau sudah 10 tahunan tidak pernah scuba lagi. Saat lulus kuliah di Indonesia, beliau langsung lanjut kuliah ke Jepang, lalu berkutat di komputer dan tidak terjun ke lapangan. 

Pesan untuk semuanya, pengalaman di MDC sesungguhnya sangat berguna, skill selam selalu terpakai apabila ingin bertugas di lapangan langsung.

Dwi Haryanti

Dwi Haryanti atau yang kerap disapa sebagai Ibu Dudu adalah dosen FPIK UNDIP yang merupakan salah satu anggota Marine Diving Club Angkatan 10. Ibu Dudu menyukai kegiatan menggambar, merajut, dan berkebun. Prinsip yang ia pegang dalam hidupnya adalah “Take short breaks in life” bekerja sewajarnya, jangan terlalu memaksakan diri hingga bekerja terlalu larut.

Salah satu alasan yang membuat Ibu Dudu masuk organisasi MDC adalah keinginan untuk belajar dan melatih skill selam. Namun semenjak bergabung dengan MDC ternyata banyak pelajaran selain selam yang ia dapatkan, karena MDC juga organisasi yang mewadahi berbagai minat. Salah satu yang membuatnya tertarik adalah desain dan fotografi. Keahlian fotografi, terutama underwater fotografi sangat membantunya hingga saat ini dalam pembuatan riset. Selain itu, MDC juga menjadi wadah untuk mengasah keberanian menjelajah tempat-tempat baru, merencanakan ekspedisi, dan mempraktekkan langsung serta mendalami berbagai pelajaran yang didapat di bangku kuliah.  Ada salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Ibu Dudu, yaitu ketika ia dan kawan-kawan mengikuti Coral Reef Ecology Course dari University of Queensland di Great Barrier Reef, dan berkesempatan untuk merasakan winter dive, night dive dan snorkeling bersama banyak sekali hiu, penyu dan pari. Sertifikat selam dan kesempatan sebagai anggota MDC merupakan salah satu modalnya untuk dapat merasakan pengalaman tersebut.

Kesibukan yang saat ini ia lakukan diluar mengajar adalah kegiatan Program Kompetisi Kampus Merdeka, mengadakan international lecture, dan menyiapkan visitasi akreditasi internasional. Menurutnya, program studi ilmu Kelautan itu keren, riset-riset yang dihasilkan juga banyak yang berkualitas, hanya saja kurang dikenal secara luas. Oleh karena itu, ia berharap Ilmu Kelautan ke depannya dapat terakreditasi secara internasional dan lebih dikenal, baik di dalam maupun di luar negeri.

Cita-citanya untuk menjadi peneliti telah terwujud, dimana beliau menjadi dosen yang banyak melakukan penelitian hingga saat ini. Banyaknya gap data, kelimpahan alam Indonesia yang menunggu dieksplorasi, serta PR riset lainnya adalah motivasi yang mendorongnya terus berkarya. Ia juga mengatakan ingin sekali menciptakan generasi muda yang lebih peduli dan mencintai lingkungan. Terakhir, pesan Ibu Dudu untuk MDC adalah semoga dapat segera melaksanakan diklat rutin bersama anggota baru serta MDC dapat belajar rapat dengan efisien agar waktunya dapat digunakan untuk berbagai kegiatan lainnya.

Andy Achmad Romadhoni

Pocillopora merupakan nama keren dari seorang anggota MDC 15 bernama Andy Achmad Romadhoni. Selain memiliki hobi menyelam, Andy juga sekarang menyukai hobi lainnya, yaitu memelihara Ikan Louhan. Motto hidupnya “Jangan lupa bersyukur” untuk segala kenikmatan hidup yang diberikan oleh Allah SWT.

Perjalanan karirnya di MDC diawali dengan ketertarikannya menjadi anggota komunitas pecinta alam. Tahun 2006, Andy berkuliah di program studi Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro. Karena Andy masuk kelautan, maka menjadi pecinta lautnya sebagai penyelam. Hal inilah yang menjadi alasan Andy bergabung dengan MDC.

Bercerita mengenai manfaat yang didapat melalui MDC, Andy mengatakan bahwa dirinya mendapatkan banyak sekali manfaat dan keuntungan bergabung dengan MDC ini. Ilmu yang ia dapat saat diklat tentunya menjadi bekal yang sangat bermanfaat untuk menunjang perkuliahan juga. Event yang berkaitan dengan dunia penyelaman serta konservasi terumbu karang Andy dapatkan saat menjadi anggota MDC. Selin itu, Andy juga dapat ikut serta dalam kegiatan pelatihan-pelatihan secara gratis. Tentunya dapat menjadi volunteer dan bekerja di tempat-tempat yang istimewa adalah keuntungan yang sangat istimewa yang Andy dapatkan.

Andy memiliki pengalaman yang menurutnya paling berkesan saat menjadi anggota MDC. Pada tahun 2007 saat Andy masih menjadi anggota muda, dirinya ikut serta dalam upacara 2 alam yang kemudian acara tersebut diliput oleh stasiun berita TV nasional serta koran. 2 tahun kemudian, Andy mengikuti Sail Bunaken 2009 di Bunaken. Sail Bunaken merupakan acara internasional kerjasama antara Departemen Kelautan dan Perikanan dengan TNI AL. Acara ini memecahkan rekor dunia upacara bendera dibawah air menggunakan KRI Surabaya dengan peserta terbanyak lebih dari 2.700 orang. Sangat membanggakan dan mengesankan sekali pengalaman Andy di Bunaken.

Kedepannya, Andy berharap MDC bisa berkembang lebih baik dengan mengikuti perkembangan jaman. Harapan lainnya, semoga MDC bisa dengan baik memanfaatkan peluang dan bisa mengkesplor potensi-potensi laut yang masih ada. Jangan pernah membatasi diri, karena Andy yakin dengan kemampuan anak-anak MDC, MDC bisa lebih maju lagi baik dari segi kemampuan diri, MDC, maupun bermanfaat bagi masyarakat luas.

Robin Sirait

Robin Sirait merupakan anggota Marine Diving Club Angkatan 16. Awalnya, Bang Robin mengikuti tahapan open recruitment MDC dengan alasan ingin mendalami dunia kelautan melalui ilmu penyelaman. Selain itu, melihat banyak figure dari senior di MDC yang menurutnya sangat menarik dan patut untuk dicontoh dengan berbagai macam profesi dan latar belakang pekerjaan. Bang Robin melihat bahwa soft skill menyelam yang dimiliki dengan masuk MDC, nantinya akan memiliki chance yang lebih besar di dunia pekerjaan.

Seiring berjalannya waktu, hingga menjadi salah satu pengurus MDC, Bang Robin mengaku sangat bersyukur karena sangat banyak pengalaman maupun ilmu yang didapat selama aktif di MDC. Beberapa ilmu yang sangat berguna di dunia kerja menurutnya adalah ilmu organisasi, kemampuan berkomunikasi, kemampuan dalam penyelesaian masalah (problem solving skills), serta memiliki mental yang kuat. Semua ilmu tersebut yang berperan penting dalam membentuk pribadi Bang Robin hingga menjadi seperti sekarang. Sempat bekerja selama 6 bulan di PT. ASMIN ADISENTOSA sebagai Teknisi Oseanografi dan saat ini, Bang Robin merupakan anggota TNI AD yang berdinas di Grup 1 PARAKO Komando Pasukan Khusus (KOPASSUS) yang memiliki sesanti Dhuaja “EKA WASTU BALADIKA” artinya Wadah Pertama Prajurit Pilihan yang bermarkas di Serang, Banten.

Tentunya, pencapaian Bang Robin tersebut tidak diraih dengan mudah. Dengan motto hidupnya yaitu “Do the best, God takes the rest”, sehingga selalu bersemangat dalam setiap kegiatan dan tanggung jawab yang diemban. Setelah sebelumnya sempat gagal dalam seleksi Akmil Tahun 2009 dan seleksi SEPA PK (Sekolah Perwira Prajurit Karier) TNI Tahun 2014 tidak membuat Bang Robin menyerah. Dengan doa dan usaha yang maksimal dalam mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi SEPA PK TNI Tahun 2015, akhirnya Bang Robin dapat diterima dengan nilai yang sangat memuaskan. Setelah selesai Pendidikan Pertama Perwira Prajurit Karier di Akademi Militer Magelang dan menjalani serangkaian pendidikan Perwira lanjutan lainnya hingga akhirnya berdinas di Grup 1 PARAKO KOPASSUS sampai saat ini. Bang Robin menyampaikan bahwa pencapaiannya tersebut tidak lepas dari apa yang ia dapatkan selama berorganisasi di MDC. “Segala yang kita lalui sebelumnya akan memberikan pelajaran dan membentuk mental kita ke depan. Contohnya kegiatan LPT saat berenang menyeberang ke Pulau Panjang. Kita sudah ngalamin duluan, jadinya saat nemenin adek-adek di bawah kita udah gak takut lagi”.

Terakhir, harapan Bang Robin untuk MDC kedepannya, baik pengurus maupun anggota yang aktif dan alumni harus selalu kompak dan berbagi informasi yang membangun. Karena apabila organisasi tidak berjalan kompak, maka akan hancur dengan sendirinya. Komunikasi harus terus berlangsung dan saling merangkul satu sama lain.

“Jangan pernah malas untuk tahu dalam hal apapun. Intinya harus terus belajar untuk mengasah diri dan jangan pernah takut untuk mencoba hal-hal yang baru untuk perkembangan organisasi MDC lebih baik kedepannya. Tetap Semangat !!! KOMANDO !!!!!" – Mas Robin Sirait, MDC angkatan 16.

Jibriel Firman Sofyan

Bagi buddies yang menggeluti bidang media pastinya tidak asing nih dengan senior yang satu ini. Mas Jibriel yang bermotto "hidup adalah bisnis" ini memiliki ketertarikan tentang terumbu karang sebelum memasuki jurusan ilmu kelautan. Walaupun itu sekilas membaca kurikulum, tapi yang membuat tertarik itu adalah belajar tentang ekosistem terumbu karang. Ternyata memang benar, masuk ilmu kelautan masih luas banget dari biologi hingga fisika dan masih engga fokus maunya tentang apa. Sehingga Mas Jibriel mencari cara supaya bisa fokus belajar memperdalam tentang biologi ekosistem terumbu karang yang dari awal diminati. Sederhananya, kalau mau belajar terumbu karang pengamatan langsung ya harus bisa nyelem. Lalu dilihat di ilmu kelautan ada UKK Marine Diving Club, tentang selam-selam. Dan karena Mas Jibril berprinsip, "sekeras apapun dia gabakal bunuh gue jadi gaperlu worry tentang rumor-rumor MDC 'keras' itu. Jadi ya gapapa bisa buat cerita aja. Dan karena gua pengen nyelem untuk mempelajari ekosistem terumbu karang ya jadi akarnya udah mantap untuk join MDC."

Salah satu keuntungan bergabung dengan MDC adalah sebagai mahasiswa ilmu kelautan, punya kesempatan menyelam lebih banyak daripada mahasiswa lain. Di organisasi pun punya alat-alatnya, dan kesempatan untuk nyelamnya lebih banyak. Selain itu, di MDC belajar berorganisasi juga. Walaupun tidak seterkenal BEM atau himpunan yang lebih politik organisasi, tetapi ternyata walaupun klub selam aja, tapi tata kelola keorganisasiannya sangat bagus. Dan Mas Jibriel menyebutkan, akan menjadi pelajaran yang bagus banget buat orang-orang yang masuk di MDC. Ilmu politik dikit-dikit, ilmu teknis penyelaman dan lain-lain. MDC juga punya satu kultur di alumni-alumninya yaitu militan. Jadi setiap anggota MDC yang alumni, tapi punya rasa memiliki sehingga dari tumbuhnya rasa memiliki tersebut masih banyak potensi yang dikembangin lagi.

Masuk MDC itu tahun 2014 menjadi angkatan 21. Nah yang paling mengesankan itu berinteraksi dengan dunia luar. Kita melakukan Ekspedisi Caretta ke Taman Nasional Laut Sawu. Jadi sekelompok mahasiswa bisa merencanakan sebuah kegiatan professional. Kita menjadi lembaga untuk meneliti di laut sawu. Yang bikin asik tuh karena prosesnya, sementara kalo lu punya uang mah bisa nyelem dimana-mana. Tapi ini konteksnya mahasiswa pengen punya kegiatan penyelaman ke daerah perairan Indonesia Timur yang mana daerah sana itu lebih subur. Dan kita mikirnya dive spot disana jauh lebih oke daripada di Karimun. Jadi sekelompok orang punya harapan ‘eh bisa gaya kita nyelem di timur, kan mahal’ ternyata kita bisa merealisasikan hal itu. Makanya sangat berkesan karena membuat konsep, rencana yang harus diajukan yang harus dicari, paling tidak adakah yang mau mendanai kegiatan ini sehingga kita berangkatnya gratis. Kita terus diklat-diklat untuk menunjang skill, bikin laporan dan segala macam kita upgrade semua. Dari proses itulah yang membuat pengalaman ini sangat mengesankan. Bahkan pas upacara pelepasan sampe nangis karena terharu. Suatu kebanggaan juga bisa membuat ekspedisi caretta yang selalu menjadi kebanggaan. Karena terakhir itu di angkatan MDC 18, terus bisa kita buat lagi di angkatan 21. Pengalaman banget, dari Labuan bajo, morotai, sawu, rote. Ngelola dana, budget, penelitian, publikasi dan lain-lain itu.

Harapannya buat MDC semakin kreatif dan adaptif juga terhadap perubahan. Untuk MDCnya tetep bertahan dan semakin popular, dicintai banyak orang dengan karya-karyanya. Jadi semoga MDC bisa jadi bermanfaat kepada siapa-siapa yang masuk ke dalam situ.

Dinda Mazeda

Apakah diantara buddies tau senior yang satu ini? Yap! Mba Dinda Mazeda. Mahasiswa Oseanografi angkatan 2008, MDC 16. Saat ini bekerja sebagai environmental engineer. Support untuk project metocean monitoring.  Dulu hobi Mba Dinda bisa dibilang diving, tapi terkait pandemic ini lebih suka olahraga. Saat ini tinggal di Singapore, keadaan pandemic di Singapore bersifat lockdown tetapi lebih cenderung circuit breaker, limited banget untuk keluar, hanya beberapa tipe olahraga seperti jogging track dan gym sedikit lebih rileks untuk dijadikan olahraga yang menjadi hobinya Mba Dinda dikala pandemic ini.

Dari awal masuk oseanografi, Mba Dinda sama sekali belum bisa berenang, tidak familiar dengan kelautan.  Ketertarikan Mba Dinda pertama kali terhadap MDC yaitu ketika ada expo kelompok studi dan UKM se-Undip , ada salah satunya klub selam MDC. Publikasi MDC dulu gencar banget “ada senior menyelam di great barrier reef”. Menurut Mba Dinda, buat mahasiswa baru atau seseorang yang belum pernah menyelam sama sekali, hal itu sangatlah menarik baginya.

Menurut Mba Dinda mengenai MDC sendiri, wisdom MDC sangat menyerap dan kepake banget di dunia kerja khususnya critical thinking. Masih ada banyak juga seperti teamwork, dan leadership. Itu semua kepake banget. Kerja sama bener-bener dilatih banget dan merasa berbeda setidaknya dalam skill tertentu. “aku dan teman-teman merasa skill improvement nya bertambah” ujar Mba Dinda.

Great milestone saat di MDC menurut Mba Dinda adalah pada saat merasakan ReefCheck. Sangat tercipta banget sense of belonging -nya untuk angkatannya dan Mba Dinda sendiri.

Untuk MDC aku rasa harus tetep semangat, harus bisa adaptasi di tengah pandemic seperti ini” – Mba Dinda Mazeda, MDC angkatan 16.

Dwi Ariyoga Gautama

Dwi Ariyoga Gautama merupakan anggota Marine Diving Club angkatan 10.  Pada awalnya, mas Yoga memutuskan menjadi anggota MDC karena pada saat itu beliau mendapat motivasi dari senior dan ingin menyelam untuk melihat biota laut, serta keahlian selam masih menjadi “rare skills” pada saat itu. Tidak salah pilih, dengan bergabungnya mas Yoga menjadi anggota MDC beliau mendapatkan banyak pengalaman yang berkesan.

Pertama, melakukan ekspedisi carreta III bersama teman – teman Angkatan 10 ke TN Takabonerate. Kegiatan itu berkesan karen usaha dan kebersamaan dengan teman – teman  seperti ketika mempersiapkan ekspedisi carreta tersebut, mas yoga dan teman – teman pada awalnya hanya bermodalkan kontak kepala balai disana. Serta berjejaring dengan teman – teman di Unhas dan taman nasional” ujar mas Yoga.

Kedua, menyelenggarakan reefcheck dengan berbagai peserta dan mendapatkan sponsor. Seluruh Angkatan 10 gratis ikut. Selanjutnya mas yoga juga pernah menjadi danus  sampai jualan di pasar, akhirnya dapat untung banyak. Adanya anak ikan dan anak karang ternyata di mulai oleh Angkatannya mas Yoga. Bahkan dulu ada peminatan fotography.

Sedikit “fun fact” Angkatan mas Yoga ini ternyata Angkatan pertama yang menginisiasi nyebrang, finswimming dari teluk awur ke jepara. Awal bisa terjadi hal tersebut sebenearnya dikarenakan ditantangi oleh Pak Agus karena beliau biasa nyberang. Sehingga pas LPT Angkatan 11mereka menyebrang ke p Panjang. Tampaknya MDC sangat melekat di hati mas Yoga, dapat dilihat dari banyaknya pengalaman yang tak terlupakan.  Saat ini mas Yoga berkerja di UNDP project ATSEA-2, mengelola program dibidang kelautan dan perikanan diwilayah Perairan Arafura dan Timor.

Terkahir, berikut harapan mas Yoga untuk MDC kedepannya. Di MDC kita membentuk karakter, hal tersulit dalam bidang pendidikan. Melalui MDC semoga bisa menghasilkan anak2 tangguh yang tidak mudah menyerah dimana pun kalian berada, siap  mengawal adek2nya ketika ada waktu kosong. MDC sudah harus mulai berjejaring dengan mitra profesional ataupun jejaring senior. Technical skill dalam pendataan bisa ditingkatkan menjadi bagian dalam pekerjaan profesional sehingga membantu portofolio CV kalian kedepannya didunia kerja. Yang penting mau bergabung dengan niat menambah pengalaman, jejaring dan ilmu-ilmu baru yang kelak akan berguna.

Eka Rafsanjani

Eka Rafsanjani, lebih akrab dipanggil "Bon" atau "Centriscus". Ia mengenal MDC awalnya karena Iqbal (MDC 18) saat sosialisasi oprec MDC orangnya memiliki wibawa yang besar serta cara berpikir dan berbicaranya yang bagus sehingga Eka mau masuk MDC, dengan motto "Hidup Jangan Nanggung!".

Menurutnya, banyak sekali pengalaman yang didapat di MDC. Pengalaman teknik negosiasi di MDC diajari bagaimana cara untuk berani berbicara dan mengenali lawan berbicara sehingga dapat memenangkan argumen, pengalaman organisasi yang lebih kompleks dari organisasi lain dan lebih terstruktur. Mulai dari penyusunan konsep dasar, timeline, konsep per sie, dan cara berpikir dari kemungkinan yang paling buruk. Pada klub selam tentunya mendapat keahlian selam dari yang harus mahal sampai gratis cuman nyiapin badan saja di MDC juga tidak hanya mendapatkan ilmu tentang scientific diving tetapi juga keahlian lain seperti fotografi dan desain grafis yang saya dapatkan dari MDC. Dapat mengenal lebih dekat dosen dan institusi luar lewat keahlian selam yang dimiliki, serta bonusnya, bisa mendapatkan uang dari keahlian-keahlian yang didapat dari MDC.

Pengalaman paling berkesan bagi Eka adalah menjadi ketua Corallium karena tidak menyangka bakal lebih kompleks susunan acaranya. Dari ketua ini Eka merasakan dirinya mengalami perubahan mulai dari cara berbicara,berpikir,bersikap dan segalanya perlu dipikirkan baik baik terlebih dahulu. Pengalaman selam di pesisir pantai utara karena kondisi laut yang zero visibility sehingga dari pengalaman ini bang eka mendapatkan pengalaman navigasi, kontrol pikiran, dan emosi yang lebih baik.

Harapannya untuk MDC kedepan, MDC harus mengikuti zaman karena MDC itu sebuah organisasi dimana anggota tidak dibayar, MDC harus memberi materil jangan sampai nilai penting dari organisasi hilang yaitu kekeluargaan dan kekompakan.

 

Siti Yasmina Enita

Siti Yasmina Enita atau lebih akrab dipanggil oleh teman – teman adalah Syenit. Sosok wanita cantik, lembut dan berprestasi tentunya.  Syenit memiliki hobi menggambar dengan motto yang tertanam dalam hidupnya yaitu “ Tidak semua hal harus kita diketahui “. Siti Yamina Enita menempuh pendidikan sarjana di Departemen Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang tahun 2013. Dalam perkuliahannya, Syenit mengikuti open recruitmen organisasi Marine Diving Club pada tahun 2014 dan terdaftar menjadi anggota Marine Diving Club pada bulan November 2014.

Alasan Syenit mengikuti dan memilih menjadi anggota Marine Diving Club itu sendiri yaitu, “karena dulu mencari kegiatan yang banyak ketemu hewan “  ujarnya dalam wawancara yang dilakukan, hewan yang dimaksud hewan laut sepertinya. Menjadi bagian dari Marine Diving Club tentunya bukan hal mudah, justru penuh tantangan dan tekad yang kuat untuk menjadi bagian dari mereka. Pengalaman yang paling diingat oleh Syenit sendiri yaitu ketika Marine Diving Club menyelenggarakan Seminar Nasional yang bertajuk “Prevent Extinction, Do Conservation“ yang mengundang Nadine Chandrawinata sebagai pemateri dalam seminar tersebut.

Manfaat serta keuntungan yang dirasakan oleh Syenit menjadi anggota Marine Diving Club ada banyak sekali salah satunya yaitu belajar lebih dalam hal praktek dan materi tentunya serta mendapatkan pengalaman liburan yang lebih. Pengalaman - pengalaman berkesan yang dirasakan Syenit tentunya ketika pertama kali melakukan diving di laut ketika Ekspedisi Corallium di Pulau Nyamuk, seperti yang dikatakan oleh Syenit, “Bahagia banget rasanya kaya terbang ngelewatin terumbu karang yang warna – warni, dan kebetulan mendapatkan tempat yang perairannya jernih, maklum lah dulu belum pernah nyelam kemana – mana jadi Karimun Jawa dirasa bagus banget.“. Pengalaman lain yang berkesan lainnya yaitu ketika bertemu hiu paus atau yang sering kita sebut dengan whale shark, pengalaman ini bukan cenderung ke diving tapi lebih ke freedive.

Sila Kartika Sari

Sila Kartika merupakan Mahasiswa FPIK Universitas Diponegoro yang masuk pada tahun 2011 yang kemudian masuk kedalam kelompok studi Marine Diving Club (MDC) pada tahun 2013. Beliau merupakan bagian dari MDC 19 dan menjadi Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan.

Awalnya, Sila ingin ikut MDC karena baju seragamnya keren, kemudian dia melihat beberapa faktor lain seperti mata kuliah, ketertarikannya pada biologi organisme laut, dan apa yang ditawarkan oleh MDC. Menurut Sila terdapat beberapa keuntungan masuk MDC dimana diantaranya adalah perkembangan karakter dan soft skill. Perkembangan karakter yang dimaksud adalah etiket bekerja serta rasa tanggung jawab.

Pengalaman yang paling diingat adalah pada Ekspedisi Corallium, dimana kompresor yang dibawa untuk membantu dalam pengisian tabung tidak dapat digunakan karena rusak, dengan wilayah ekspedisinya yang berada di Pulau Parang dan jauh dari dive shop manapun serta kondisi listrik yang hanya menyala pada waktu tertentu. Harapan beliau untuk MDC kedepannya adalah janganlah sebuah angkatan MDC bersifat eksklusif, carilah ilmu sedalam-dalamnya, dan paham bahwa sebuah angkatan baru membuthkan senior (pembimbing) untuk membantu belajar dari ilmu-ilmunya

M. Abdul Hakim

Anggota MDC 21 ini lahir di Magelang. Dulu, awal mas yang memiliki hobi menabung ini mendaftar MDC karena menurutnya klub ini keren. Setelah menjadi anggota, keuntungan yang beliau dapat yaitu bisa jalan jalan gratis, penelitian gratis, serta sering ditraktir makan oleh para senior. Selama menjadi anggota MDC, pengalaman yang paling berkesannya adalah saat menjadi Ketua Ekspedisi Carreta X Savu. Harapannya untuk MDC adalah bahwa semoga anggota MDC tetap aktif dan mau berkreasi

Corina Dewi Ruswanti

Corina atau yang akrab dipanggil Ririn merupakan anggota dari MDC 21. Gadis kelahiran Bogor ini memiliki hobi berolahraga, kulineran dan travelling. Hal ini beserta kesenangannya terhadap renanglah yang kemudian mendorongnya untuk masuk Marine Diving Club. Alasannya memasuki MDC adalah ketika bertemu dengan senior MDC dari komunitas Bogor yaitu Jaka (MDC 20) yang pada saat itu menggunakan baju dinas MDC dimana menurutnya, baju itu keren. Ririn yang pada saat itu hanya bertanya, ‘itu baju dinas apa?’ dijawab sekaligus ajakan dari kak Jaka, ‘MDC, nanti daftar ya!’. Keinginannya semakin kuat ketika bertemu dengan senior-senior MDC lainnya yang sudah pergi kemana-mana, ditambah tujuannya melanjutkan studi di jurusan Ilmu Kelautan ini yaitu ingin jalan-jalan di daerah pesisir.

Ririn merasa bahwa dengan dirinya mengikuti MDC banyak sekali manfaat yang ia dapatkan, diantaranya adalah pembentukan jati diri, sikap, perilaku, dan tentunya kedisiplinan yang dijunjung tinggi di MDC. Hal yang ia dapatkan di MDC ini beserta kerja secara rapi, tepat waktu dan detail kemudian ia bawa hingga sekarang, sehingga di lingkungan kerjapun ia kerjakan secara terstruktur. Tentunya, koneksi yang didapat di MDC sangat banyak, selain koneksi, tentunya ilmu yang didapat di MDC tidak dapat terhitung seberapa banyak seperti ketika teman-teman lain belum tau apa-apa, di MDC diajarkan genus ikan, lifeform karang. Lalu tentunya juga menambah keluarga di MDC, teman-teman, kakak-kakak serta adik-adik yang solid dan keep contact walaupun tersebar diseluruh Indonesia.

Diantara panjangnya perjalanan yang pernah ia alami bersama MDC sejak 2014, pengalaman yang paling terkenang adalah ketika menjadi peserta oprec serta menjadi panitia oprec. Pengalaman paling berkesannya ialah ketika menjalani Ekspedisi Caretta dimana ia banyak belajar dari kondisi air untuk menyelam yang bervariasi. Ada yang substratnya berlumpur sehingga ketika descend sangat gelap jadi harus merhatiin fins buddy  yang didepan supaya tidak terpencar. Pernah juga ketika pulang dari suatu site terlalu malam dan penginapannya tidak memiliki dermaga sehingga harus berenang sampai pantai bermodalkan dry bag, masker, booties dan senter.

Ia berpesan semoga MDC bisa terus berkarya, berinovasi, eksis di dunia diving dan kelautan. Semoga sebagai anggota bisa terus menjaga citra MDC dan nama baik organisasi kemanapun berada.

Miko Budiraharjo

Miko mengenal MDC sebelum mengenal Ilmu Kelautan Undip. Saat itu tahun 2007 saat MDC memecahkan rekor MURI untuk catur bawah laut. Saat itu beliau masih SMA. Dari itu, beliau mengenal MDC dan ketika bergabung dengan ilmu kelautan beliau juga bergabung dengan MDC. Beliau bergabung dengan MDC pada April tahun 2009 yaitu pada saat beliau semester 3 dan dilantik menjadi anggota MDC pada Januari 2010.

Menurut beliau, banyak hal luar biasa beliau rasakan ketika mengikuti rekrutmen MDC. Tahapan-tahapan rekrutmen yang awalnya dirasa berat ternyata banyak memiliki dampak besar baginya maupun kawan-kawan satu angkatannya. Pasalnya, melalui tempaan pada saat rekrutmen itu beliau merasa bahwa disitulah kekuatan satu angkatan terbentuk. Yang paling beliau dan kawan-kawan rasakan yaitu ketika menjalankan kepanitiaan Reef Check tahun 2010. Beliau megklaim Reef Check 2010 sebagai salah satu kegiatan Reef Check  yang paling berhasil. Pada saat itu, kegiatan tersebut diliput dalam televisi nasional dan memecahkan rekor MURI untuk kuliah bawah laut.

Pesannya adalah untuk tetap berpikir liar, maksudnya berpikirlah sekreatif mungkin. Melalui pemikiran-pemikiran liar tersebut terkadang muncul banyak ide luar biasa. Lalu ide tersebut bersama MDC dituangkan menjadi rencana terstruktur dan diwujudkan menjadi nyata. Jangan pernah merasa lelah untuk berpikir. Tetaplah bisa berpikir dalam kondisi apapun.

Agus Trianto

Pak Agus Trianto atau yang lebih dikenal dengan dengan panggilan Pak AT adalah dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro yang juga merupakan senior Marine Diving Club angkatan pertama. Pak AT merupakan salah satu senior pendiri Marine Diving Club. Pak AT lahir pada tanggal 23 Maret 1969 di Purbalingga dan kini bertempat tinggal di Jln. Karangrejo 5D No. 1, Banyumanik, Semarang. Beliau menempuh pendidikan S1 Ilmu Kelautan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Dipinegoro dan melanjutkan studi S2 dan S3 nya di University of the Ryukyus, Jepang.

Selam menjadi menjadi salah satu olahraga yang menjadi hobbi Pak AT. Motivasi Pak AT dalam mengikuti klub selam adalah adanya rasa tertantang dan sebagai bekal untuk kedepannya dalam melakukan pekerjaan dan penelitian. Seringnya menyelam, dari Sabang sampai Meraoke sudah pernah Pak AT rasakan dimana Alor menjadi tempat penyelaman yang berkesan dengan arusnya yang kuat. Keuntungan yang di dapat dari menjadi anggota MDC bagi Pak AT adalah adanya pengalaman berorganisasi, memiliki banyak teman, dan mendapat banyak pengalaman dimana pengalaman yang paling berkesan di MDC sampai saat ini yaitu saat melakukan survey ke Bawean. Survey ke Bawean menjadi sangan berkesan dimana dari sedikitnya informasi yang didapat butuh 4 jam untuk sampai di lokasi, tapi ternyata dibutuhkan waktu 14 jam perjalanan, total perjalanan menghabiskan waktu 20 jam karena adanya badai dalam perjalanan. Bagi Pak AT menyelam di Karimunjawa juga sudah sangat berkesan, dimana dapat melihat ikan-ikan besar.

Harapan Pak AT  untuk MDC kedepannya adalah MDC lebih mandiri, memiliki sumber uang sendiri, publikasi semakin bagus. Dimana dengan memiliki sumber uang sendiri sehingga dapat pergi kemana-mana secara gratis. Publikasi yang bagus dan sumber uang sendiri, keduanya saling mengunci dimana publikasi bagus akan menghasilkan uang, begitupun sebaliknya uang banya karena ada publikasi yang bagus. Jika keduanya tercapai MDC makin Top.