Senior Profile

Siti Yasmina Enita

Siti Yasmina Enita atau lebih akrab dipanggil oleh teman – teman adalah Syenit. Sosok wanita cantik, lembut dan berprestasi tentunya. Syenit lahir pada tanggal 26 Februari 1995 di kota Sumedang, Jawa Barat. Syenit memiliki hobi menggambar dengan motto yang tertanam dalam hidupnya yaitu “ Tidak semua hal harus kita diketahui “. Siti Yamina Enita menempuh pendidikan sarjana di Departemen Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang tahun 2013. Dalam perkuliahannya, Syenit mengikuti open recruitmen organisasi Marine Diving Club pada tahun 2014 dan terdaftar menjadi anggota Marine Diving Club pada bulan November 2014.

Alasan Syenit mengikuti dan memilih menjadi anggota Marine Diving Club itu sendiri yaitu, “karena dulu mencari kegiatan yang banyak ketemu hewan “  ujarnya dalam wawancara yang dilakukan, hewan yang dimaksud hewan laut sepertinya. Menjadi bagian dari Marine Diving Club tentunya bukan hal mudah, justru penuh tantangan dan tekad yang kuat untuk menjadi bagian dari mereka. Pengalaman yang paling diingat oleh Syenit sendiri yaitu ketika Marine Diving Club menyelenggarakan Seminar Nasional yang bertajuk “Prevent Extinction, Do Conservation“ yang mengundang Nadine Chandrawinata sebagai pemateri dalam seminar tersebut.

Manfaat serta keuntungan yang dirasakan oleh Syenit menjadi anggota Marine Diving Club ada banyak sekali salah satunya yaitu belajar lebih dalam hal praktek dan materi tentunya serta mendapatkan pengalaman liburan yang lebih. Pengalaman - pengalaman berkesan yang dirasakan Syenit tentunya ketika pertama kali melakukan diving di laut ketika Ekspedisi Corallium di Pulau Nyamuk, seperti yang dikatakan oleh Syenit, “Bahagia banget rasanya kaya terbang ngelewatin terumbu karang yang warna – warni, dan kebetulan mendapatkan tempat yang perairannya jernih, maklum lah dulu belum pernah nyelam kemana – mana jadi Karimun Jawa dirasa bagus banget.“. Pengalaman lain yang berkesan lainnya yaitu ketika bertemu hiu paus atau yang sering kita sebut dengan whale shark, pengalaman ini bukan cenderung ke diving tapi lebih ke freedive.

Sila Kartika Sari

Lahir di Jakarta pada pada 17 April 1993, Sila Kartika merupakan Mahasiswa FPIK Universitas Diponegoro yang masuk pada tahun 2011 yang kemudian masuk kedalam kelompok studi Marine Diving Club (MDC) pada tahun 2013. Beliau merupakan bagian dari MDC 19 dan menjadi Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan.

Awalnya, Sila ingin ikut MDC karena baju seragamnya keren, kemudian dia melihat beberapa faktor lain seperti mata kuliah, ketertarikannya pada biologi organisme laut, dan apa yang ditawarkan oleh MDC. Menurut Sila terdapat beberapa keuntungan masuk MDC dimana diantaranya adalah perkembangan karakter dan soft skill. Perkembangan karakter yang dimaksud adalah etiket bekerja serta rasa tanggung jawab.

Pengalaman yang paling diingat adalah pada Ekspedisi Corallium, dimana kompresor yang dibawa untuk membantu dalam pengisian tabung tidak dapat digunakan karena rusak, dengan wilayah ekspedisinya yang berada di Pulau Parang dan jauh dari dive shop manapun serta kondisi listrik yang hanya menyala pada waktu tertentu. Harapan beliau untuk MDC kedepannya adalah janganlah sebuah angkatan MDC bersifat eksklusif, carilah ilmu sedalam-dalamnya, dan paham bahwa sebuah angkatan baru membuthkan senior (pembimbing) untuk membantu belajar dari ilmu-ilmunya

M. Abdul Hakim

Anggota MDC 21 ini lahir di Magelang, tanggal 15 Oktober 1994. Dulu, awal mas yang memiliki hobi menabung ini mendaftar MDC karena menurutnya klub ini keren. Setelah menjadi anggota, keuntungan yang beliau dapat yaitu bisa jalan jalan gratis, penelitian gratis, serta sering ditraktir makan oleh para senior. Selama menjadi anggota MDC, pengalaman yang paling berkesannya adalah saat menjadi Ketua Ekspedisi Carreta X Savu. Harapannya untuk MDC adalah bahwa semoga anggota MDC tetap aktif dan mau berkreasi

Corina Dewi Ruswanti

Corina atau yang akrab dipanggil Ririn merupakan anggota dari MDC 21. Gadis kelahiran Bogor ini memiliki hobi berolahraga, kulineran dan travelling. Hal ini beserta kesenangannya terhadap renanglah yang kemudian mendorongnya untuk masuk Marine Diving Club. Alasannya memasuki MDC adalah ketika bertemu dengan senior MDC dari komunitas Bogor yaitu Jaka (MDC 20) yang pada saat itu menggunakan baju dinas MDC dimana menurutnya, baju itu keren. Ririn yang pada saat itu hanya bertanya, ‘itu baju dinas apa?’ dijawab sekaligus ajakan dari kak Jaka, ‘MDC, nanti daftar ya!’. Keinginannya semakin kuat ketika bertemu dengan senior-senior MDC lainnya yang sudah pergi kemana-mana, ditambah tujuannya melanjutkan studi di jurusan Ilmu Kelautan ini yaitu ingin jalan-jalan di daerah pesisir.

Ririn merasa bahwa dengan dirinya mengikuti MDC banyak sekali manfaat yang ia dapatkan, diantaranya adalah pembentukan jati diri, sikap, perilaku, dan tentunya kedisiplinan yang dijunjung tinggi di MDC. Hal yang ia dapatkan di MDC ini beserta kerja secara rapi, tepat waktu dan detail kemudian ia bawa hingga sekarang, sehingga di lingkungan kerjapun ia kerjakan secara terstruktur. Tentunya, koneksi yang didapat di MDC sangat banyak, selain koneksi, tentunya ilmu yang didapat di MDC tidak dapat terhitung seberapa banyak seperti ketika teman-teman lain belum tau apa-apa, di MDC diajarkan genus ikan, lifeform karang. Lalu tentunya juga menambah keluarga di MDC, teman-teman, kakak-kakak serta adik-adik yang solid dan keep contact walaupun tersebar diseluruh Indonesia.

Diantara panjangnya perjalanan yang pernah ia alami bersama MDC sejak 2014, pengalaman yang paling terkenang adalah ketika menjadi peserta oprec serta menjadi panitia oprec. Pengalaman paling berkesannya ialah ketika menjalani Ekspedisi Caretta dimana ia banyak belajar dari kondisi air untuk menyelam yang bervariasi. Ada yang substratnya berlumpur sehingga ketika descend sangat gelap jadi harus merhatiin fins buddy  yang didepan supaya tidak terpencar. Pernah juga ketika pulang dari suatu site terlalu malam dan penginapannya tidak memiliki dermaga sehingga harus berenang sampai pantai bermodalkan dry bag, masker, booties dan senter.

Ia berpesan semoga MDC bisa terus berkarya, berinovasi, eksis di dunia diving dan kelautan. Semoga sebagai anggota bisa terus menjaga citra MDC dan nama baik organisasi kemanapun berada.

Miko Budiraharjo

Miko mengenal MDC sebelum mengenal Ilmu Kelautan Undip. Saat itu tahun 2007 saat MDC memecahkan rekor MURI untuk catur bawah laut. Saat itu beliau masih SMA. Dari itu, beliau mengenal MDC dan ketika bergabung dengan ilmu kelautan beliau juga bergabung dengan MDC. Beliau bergabung dengan MDC pada April tahun 2009 yaitu pada saat beliau semester 3 dan dilantik menjadi anggota MDC pada Januari 2010.

Menurut beliau, banyak hal luar biasa beliau rasakan ketika mengikuti rekrutmen MDC. Tahapan-tahapan rekrutmen yang awalnya dirasa berat ternyata banyak memiliki dampak besar baginya maupun kawan-kawan satu angkatannya. Pasalnya, melalui tempaan pada saat rekrutmen itu beliau merasa bahwa disitulah kekuatan satu angkatan terbentuk. Yang paling beliau dan kawan-kawan rasakan yaitu ketika menjalankan kepanitiaan Reef Check tahun 2010. Beliau megklaim Reef Check 2010 sebagai salah satu kegiatan Reef Check  yang paling berhasil. Pada saat itu, kegiatan tersebut diliput dalam televisi nasional dan memecahkan rekor MURI untuk kuliah bawah laut.

Pesannya adalah untuk tetap berpikir liar, maksudnya berpikirlah sekreatif mungkin. Melalui pemikiran-pemikiran liar tersebut terkadang muncul banyak ide luar biasa. Lalu ide tersebut bersama MDC dituangkan menjadi rencana terstruktur dan diwujudkan menjadi nyata. Jangan pernah merasa lelah untuk berpikir. Tetaplah bisa berpikir dalam kondisi apapun.

Agus Trianto

Pak Agus Trianto atau yang lebih dikenal dengan dengan panggilan Pak AT adalah dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro yang juga merupakan senior Marine Diving Club angkatan pertama. Pak AT merupakan salah satu senior pendiri Marine Diving Club. Pak AT lahir pada tanggal 23 Maret 1969 di Purbalingga dan kini bertempat tinggal di Jln. Karangrejo 5D No. 1, Banyumanik, Semarang. Beliau menempuh pendidikan S1 Ilmu Kelautan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Dipinegoro dan melanjutkan studi S2 dan S3 nya di University of the Ryukyus, Jepang.

Selam menjadi menjadi salah satu olahraga yang menjadi hobbi Pak AT. Motivasi Pak AT dalam mengikuti klub selam adalah adanya rasa tertantang dan sebagai bekal untuk kedepannya dalam melakukan pekerjaan dan penelitian. Seringnya menyelam, dari Sabang sampai Meraoke sudah pernah Pak AT rasakan dimana Alor menjadi tempat penyelaman yang berkesan dengan arusnya yang kuat. Keuntungan yang di dapat dari menjadi anggota MDC bagi Pak AT adalah adanya pengalaman berorganisasi, memiliki banyak teman, dan mendapat banyak pengalaman dimana pengalaman yang paling berkesan di MDC sampai saat ini yaitu saat melakukan survey ke Bawean. Survey ke Bawean menjadi sangan berkesan dimana dari sedikitnya informasi yang didapat butuh 4 jam untuk sampai di lokasi, tapi ternyata dibutuhkan waktu 14 jam perjalanan, total perjalanan menghabiskan waktu 20 jam karena adanya badai dalam perjalanan. Bagi Pak AT menyelam di Karimunjawa juga sudah sangat berkesan, dimana dapat melihat ikan-ikan besar.

Harapan Pak AT  untuk MDC kedepannya adalah MDC lebih mandiri, memiliki sumber uang sendiri, publikasi semakin bagus. Dimana dengan memiliki sumber uang sendiri sehingga dapat pergi kemana-mana secara gratis. Publikasi yang bagus dan sumber uang sendiri, keduanya saling mengunci dimana publikasi bagus akan menghasilkan uang, begitupun sebaliknya uang banya karena ada publikasi yang bagus. Jika keduanya tercapai MDC makin Top.