Kerusakan Terumbu Karang akibat Wisata Snorkeling dan Diving

Menikmati keindahan bawah laut seharusnya tidak mengorbankan kehidupan yang ada di dalamnya

Pesona Bawah Laut dan Ancaman di Baliknya

Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem laut dengan nilai ekologis dan ekonomis yang tinggi. Ekosistem ini menjadi habitat bagi beragam organisme laut, menyediakan tempat berlindung dan mencari makan bagi ikan, mendukung kegiatan perikanan, serta berperan sebagai pelindung alami pantai dari energi gelombang. Keindahannya juga menjadikan terumbu karang sebagai daya tarik utama wisata bahari, khususnya snorkeling dan scuba diving.

Melalui aktivitas tersebut, wisatawan dapat menikmati keanekaragaman hayati bawah laut secara langsung. Namun, di balik pengalaman yang menyenangkan, terdapat risiko kerusakan ekologis apabila kegiatan wisata dilakukan tanpa memperhatikan prinsip keberlanjutan. Kontak fisik dengan karang, penggunaan jangkar yang tidak tepat, hingga pengelolaan wisata yang kurang memadai dapat memberikan tekanan terhadap ekosistem yang relatif rentan.

Permasalahannya bukan terletak pada aktivitas snorkeling dan diving itu sendiri, melainkan pada bagaimana aktivitas tersebut dilakukan dan dikelola. Wisata bahari yang tidak disertai edukasi, pengawasan, serta pembatasan yang sesuai berpotensi mengubah pengalaman menikmati alam menjadi salah satu sumber tekanan terhadap kelestariannya.

Kerusakan Terumbu Karang di Indonesia

Salah satu kasus kerusakan terumbu karang akibat aktivitas wisata ditemukan di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Penelitian Muhidin et al. (2017) dalam Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis mengidentifikasi sejumlah perilaku wisatawan yang berpotensi merusak karang, seperti menginjak karang, memegang koloni, dan melakukan kontak fisik secara langsung. Bentuk kerusakan yang ditemukan meliputi pecahan karang (rubble), goresan pada permukaan koloni, serta koloni yang hancur.

Berdasarkan analisis potensi dampak wisata dalam penelitian tersebut, penyelam tanpa sertifikasi memiliki nilai dampak terbesar, yaitu 13,55% per tahun dari potensi ekologis yang dianalisis. Sementara itu, nilai yang dilaporkan untuk wisatawan snorkeling sebesar 5,05% dan penyelam bersertifikasi sebesar 2,36%. Perbedaan ini menegaskan pentingnya keterampilan, pengendalian gerakan, dan kesadaran lingkungan selama berada di bawah air. Angka tersebut merupakan hasil analisis dalam konteks penelitian, bukan persentase kerusakan yang dapat digeneralisasi ke seluruh lokasi wisata.

Kasus serupa juga menjadi perhatian di Taman Nasional Karimunjawa, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata bahari Indonesia. Penelitian Akhmad et al. (2018) mengidentifikasi perilaku wisatawan yang berpotensi merusak terumbu karang, termasuk duduk, berdiri, dan berlutut di atas koloni karang. Tekanan terhadap ekosistem juga dapat berasal dari praktik operator wisata, seperti penambatan perahu yang tidak tepat, pemberian pakan kepada ikan, serta kurangnya teguran ketika wisatawan melakukan tindakan yang membahayakan karang.

Kedua kasus tersebut menunjukkan bahwa kerusakan terumbu karang tidak dapat dilepaskan dari perilaku pengunjung dan kualitas pengelolaan wisata. Pengalaman wisata yang bertanggung jawab membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari wisatawan, pemandu, operator kapal, hingga pengelola kawasan konservasi.

Bagaimana Snorkeling dan Diving Memengaruhi Ekosistem?

Dampak aktivitas wisata terhadap terumbu karang tidak selalu terlihat secara langsung. Patahan kecil, luka pada jaringan, dan sedimen yang menutupi permukaan koloni dapat menjadi bagian dari tekanan ekologis yang lebih luas.

1. Kerusakan fisik dan meningkatnya kerentanan karang

Sirip penyelam yang menyenggol koloni, kaki yang menginjak karang, tangan yang digunakan untuk berpegangan, atau peralatan selam yang membentur substrat dapat menyebabkan luka, patahan, dan kematian sebagian jaringan karang. Kondisi tersebut dapat menghambat pertumbuhan serta pemulihan koloni. Jaringan yang mengalami kerusakan juga dapat menjadi rentan terhadap gangguan lanjutan, termasuk penyakit, meskipun perkembangan penyakit dipengaruhi oleh berbagai faktor dan tidak selalu terjadi akibat kontak fisik semata (Renzi et al., 2022).

Risiko ini dapat meningkat ketika penyelam belum mampu mempertahankan daya apung netral (neutral buoyancy) atau berenang terlalu dekat dengan dasar perairan. Karang bercabang, misalnya, memiliki struktur yang relatif mudah patah ketika terkena benturan.

2. Hilangnya habitat bagi ikan dan organisme laut lainnya

Terumbu karang bukan sekadar kumpulan organisme yang indah untuk diamati. Struktur dan celah-celahnya menyediakan ruang bagi ikan dan biota lainnya untuk berlindung dari predator, mencari makan, tumbuh, dan berkembang biak.

Ketika koloni karang rusak dan kompleksitas habitat berkurang, kualitas ruang hidup organisme yang bergantung pada terumbu juga dapat menurun. Penelitian mengenai hubungan kompleksitas habitat dan keanekaragaman morfologi karang menunjukkan pentingnya struktur terumbu dalam membentuk habitat bawah laut (Oh et al., 2025). Dengan demikian, kerusakan karang berpotensi memengaruhi organisme yang memanfaatkan struktur tersebut, meskipun besarnya dampak bergantung pada kondisi habitat dan spesies yang ada.

3. Sedimentasi akibat gerakan sirip

Gerakan sirip (fins) yang terlalu dekat dengan dasar perairan dapat mengaduk pasir dan sedimen sehingga partikel melayang di kolom air sebelum kembali mengendap. Apabila sedimen menutupi permukaan karang, proses penting seperti fotosintesis alga simbion dan pertukaran gas dapat terganggu, terutama ketika sedimentasi terjadi secara berlebihan atau berlangsung terus-menerus.

Penelitian Purnomo et al. (2022) mengenai kondisi terumbu karang di beberapa lokasi snorkeling Taman Nasional Karimunjawa menemukan bahwa kondisi karang tidak seragam antarlokasi. Pada beberapa lokasi juga ditemukan koloni yang mengalami pemutihan atau kematian sebagian. Temuan tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi lokasi yang diteliti, tetapi tidak membuktikan bahwa snorkeling merupakan satu-satunya penyebab kerusakan. Faktor lingkungan lainnya tetap perlu dipertimbangkan.

4. Pemulihan karang yang membutuhkan waktu

Karang yang patah atau mengalami kerusakan memerlukan waktu untuk pulih. Ketika gangguan terjadi berulang kali di lokasi yang sama, tekanan baru dapat muncul sebelum koloni sempat memperbaiki diri. Dalam kondisi tersebut, penurunan kualitas terumbu dapat berlangsung secara bertahap.

Kemampuan pemulihan karang juga dipengaruhi oleh kualitas air, penyakit, badai, pencemaran, dan perubahan iklim. Karena itu, pemulihan ekosistem tidak cukup hanya mengandalkan rehabilitasi setelah kerusakan terjadi, tetapi juga memerlukan pengendalian sumber tekanan agar kerusakan serupa tidak terus berulang (NOAA, Coral Reef Ecosystems).

5. Berkurangnya manfaat ekologis dan ekonomi

Kerusakan terumbu karang pada akhirnya dapat berdampak pada masyarakat pesisir. Penurunan kualitas habitat berpotensi memengaruhi sumber daya ikan dan kegiatan perikanan, mengurangi daya tarik wisata, serta melemahkan fungsi terumbu sebagai peredam energi gelombang.

Dampak tersebut tidak selalu muncul seketika setelah kerusakan terjadi. Namun, apabila kondisi terumbu terus menurun, manfaat ekologis dan ekonominya juga berisiko berkurang. Destinasi wisata dapat kehilangan daya tarik, sementara masyarakat yang bergantung pada perikanan dan pariwisata berpotensi menghadapi penurunan pendapatan. Inilah alasan mengapa perlindungan terumbu karang tidak hanya penting bagi lingkungan, tetapi juga bagi keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir.

Bukan Melarang Wisata, Melainkan Membangun Wisata yang Bertanggung Jawab

Mengatasi kerusakan terumbu karang tidak berarti harus menghentikan seluruh aktivitas snorkeling dan diving. Langkah yang lebih penting adalah memastikan kegiatan wisata berlangsung sesuai daya dukung lingkungan, didukung edukasi yang memadai, serta diawasi secara konsisten.

1. Peran masyarakat lokal dan pelaku usaha wisata

Briefing sebelum masuk ke air. Pemandu perlu memberikan pengarahan sebelum snorkeling atau menyelam, mencakup larangan menyentuh dan menginjak karang, teknik berenang yang aman, pengendalian daya apung, serta cara menjaga jarak dari dasar perairan. Briefing tidak seharusnya sekadar menjadi formalitas, tetapi memastikan wisatawan memahami dan mampu menerapkan perilaku yang bertanggung jawab.

Menjaga jarak aman dari terumbu karang. Penerapan kebijakan jarak aman atau safety-bubble policy dapat membantu mengurangi kontak tidak sengaja antara wisatawan dan karang. Pemandu juga perlu mengatur posisi rombongan dan mengingatkan pengunjung agar tidak berenang terlalu dekat dengan koloni.

Mengatur penggunaan aksesori penyelaman. Kamera bawah air, sarung tangan, dan muck stick perlu digunakan secara bijaksana. Pengelola dapat membatasi atau melarang penggunaannya apabila menambah risiko kontak fisik, terutama bagi wisatawan yang belum memiliki keterampilan memadai. Kamera, misalnya, sebaiknya tidak menjadi alasan bagi penyelam untuk berpegangan pada karang demi memperoleh foto.

Menentukan lokasi snorkeling yang sesuai. Pengelola perlu memilih lokasi berdasarkan kedalaman, kondisi pasang surut, topografi dasar, dan keberadaan karang. Mengarahkan wisatawan ke perairan yang cukup dalam dapat mengurangi risiko berdiri atau menginjak karang, tetapi kedalaman lebih dari 2–3 meter bukan jaminan keamanan. Penentuan lokasi tetap harus mempertimbangkan keselamatan pengunjung dan kondisi ekologis setempat.

Menggunakan pelampung tambat atau mooring buoy. Perahu wisata sebaiknya tidak menjatuhkan jangkar di hamparan karang. Pemasangan pelampung tambat pada lokasi yang sesuai dapat mengurangi risiko jangkar dan rantai merusak koloni. Langkah ini perlu disertai pemeliharaan fasilitas serta papan informasi yang jelas mengenai larangan berjangkar di area terumbu.

Mengatur daya dukung wisata. Jumlah pengunjung dan lama kunjungan perlu disesuaikan dengan daya dukung ekologis setiap lokasi. Kuota harian, pembatasan waktu kunjungan, dan rotasi lokasi dapat dipertimbangkan berdasarkan hasil kajian ilmiah. Angka seperti kurang dari 250 orang per hari tidak dapat diterapkan sebagai batas universal karena kapasitas setiap lokasi berbeda.

Menetapkan zona perlindungan. Sebagian kawasan dapat dialokasikan sebagai zona perlindungan yang membatasi atau melarang aktivitas wisata sesuai tujuan pengelolaan. Usulan perlindungan 10–20% kawasan terumbu harus ditentukan berdasarkan kondisi ekologis, konektivitas habitat, tujuan konservasi, dan aturan kawasan setempat. Zona perlindungan yang dirancang dengan baik dapat membantu menjaga habitat, mendukung pemulihan, dan mempertahankan sumber larva bagi kawasan di sekitarnya.

Langkah-langkah tersebut sejalan dengan pentingnya pengelolaan wisata bahari berdasarkan kesesuaian dan daya dukung lingkungan, sebagaimana dibahas dalam penelitian Zulfikar et al. (2011) serta Jubaedah dan Anas (2019).

2. Mahasiswa sebagai bagian dari solusi

Mahasiswa bidang kelautan dan lingkungan memiliki peluang untuk berkontribusi melalui penelitian, edukasi, restorasi, dan pengembangan sistem pemantauan. Peran ini penting karena pengelolaan wisata yang efektif membutuhkan data dan evaluasi yang berkelanjutan.

Riset daya dukung dan Indeks Kesesuaian Wisata (IKW). Mahasiswa dapat melakukan pemetaan tutupan karang hidup (live coral cover), mengukur kualitas air, mengidentifikasi aktivitas wisata, serta menghitung Indeks Kesesuaian Wisata. Hasil penelitian dapat digunakan untuk menyusun rekomendasi lokasi, intensitas kunjungan, dan bentuk pengelolaan yang sesuai dengan kondisi setempat (Zulfikar et al., 2011).

Edukasi dan penyuluhan lingkungan. Kegiatan pengabdian masyarakat dapat diarahkan kepada wisatawan, masyarakat pesisir, operator kapal, dan pemandu wisata. Materinya dapat mencakup fungsi terumbu karang, perilaku wisata yang bertanggung jawab, pengelolaan sampah, dan pentingnya kepatuhan terhadap ketentuan perlindungan lingkungan. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dapat menjadi salah satu rujukan hukum, dengan memperhatikan perubahan peraturan dan ketentuan lain yang berlaku.

Restorasi terumbu karang berbasis komunitas. Apabila kondisi ekologis dan penyebab kerusakan telah dievaluasi, mahasiswa dapat berpartisipasi dalam program rehabilitasi bersama masyarakat dan tenaga ahli. Beberapa metode yang dapat dipertimbangkan meliputi:

  • Metode spider web. Fragmen karang ditempatkan pada struktur rangka berbentuk jaring laba-laba. Metode ini dilaporkan dalam sejumlah kegiatan rehabilitasi, tetapi tingkat kelangsungan hidupnya bergantung pada spesies, kondisi perairan, kualitas fragmen, dan pemeliharaan. Angka keberhasilan hingga 92% yang dilaporkan dalam sumber tertentu tidak dapat dianggap sebagai hasil yang pasti untuk semua lokasi.
  • Metode hibrida berupa rak PVC dan cor semen. Struktur ini dapat menjadi penyangga fragmen karang pada kondisi perairan yang sesuai. Pemilihan bahan dan desain harus mempertimbangkan kestabilan, keamanan lingkungan, dan kebutuhan spesies karang.
  • Terumbu buatan (artificial reefs). Struktur yang dirancang dengan tepat dapat menyediakan substrat dan kompleksitas habitat tambahan. Namun, penempatannya memerlukan kajian lokasi, arus, substrat, dan dampak ekologis agar tidak menimbulkan masalah baru.

Restorasi tidak seharusnya menjadi pengganti perlindungan terhadap karang yang masih sehat. Pencegahan kerusakan dan pengendalian penyebab utama tetap menjadi prioritas, sedangkan rehabilitasi dilakukan berdasarkan kebutuhan serta kelayakan ekologis (Arungla’bi et al., 2025; Sagala et al., 2024).

Pemanfaatan teknologi informasi. Mahasiswa juga dapat membantu pengumpulan, pemetaan, dan pengelolaan data kondisi terumbu karang melalui sistem informasi terintegrasi, seperti Coral Reef Management Information System (CRMIS) atau sistem yang berkaitan dengan COREMAP. Dokumentasi berkala dan data yang tersusun baik dapat mendukung pemantauan perubahan kondisi terumbu, evaluasi program, serta pengambilan keputusan berbasis bukti.

Menjaga Terumbu Karang Dimulai dari Cara Kita Menikmatinya

Kerusakan terumbu karang akibat wisata snorkeling dan diving merupakan persoalan yang melibatkan perilaku manusia, kondisi lingkungan, dan tata kelola kawasan. Sentuhan kecil, tendangan sirip, atau jangkar yang dijatuhkan di tempat yang salah mungkin terlihat sepele. Namun, ketika gangguan tersebut terjadi berulang kali, dampaknya dapat meluas hingga memengaruhi habitat biota, fungsi ekologis terumbu, dan keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir.

Karena itu, solusi yang dibutuhkan bukan sekadar mengajak wisatawan mencintai laut, tetapi memastikan kecintaan tersebut diwujudkan melalui tindakan yang tepat. Pemandu perlu memberikan edukasi, operator perlu menerapkan praktik wisata yang bertanggung jawab, pengelola harus menggunakan data dalam menentukan batas kunjungan, dan mahasiswa dapat mendukung upaya tersebut melalui penelitian serta pengabdian masyarakat.

Pada akhirnya, wisata bahari yang baik bukan hanya tentang seberapa indah pemandangan yang berhasil dinikmati atau seberapa menarik foto yang dibawa pulang. Wisata yang bertanggung jawab juga ditentukan oleh kondisi ekosistem yang ditinggalkan setelah kunjungan berakhir.

Laut seharusnya tetap indah bukan hanya ketika kita menikmatinya, tetapi juga setelah kita meninggalkannya.

Daftar Pustaka

Akhmad, D. S., Purnomo, P. W. dan Supriharyono, S., 2018. Potensi Kerusakan Terumbu Karang pada Kegiatan Wisata Snorkeling di Destinasi Wisata Taman Nasional Karimunjawa. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 10(2): 419–429.

Arungla’bi, Y., Kamal, E., Damanhuri, H., Tebay, S. dan Wulandari, D. P., 2025. Rehabilitasi sebagai Upaya Pelestarian Terumbu Karang di Wilayah Konservasi Perairan Indonesia. Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik, 9(2): 165–174. https://doi.org/10.46252/jsai-fpik-unipa.2025.Vol.9.No.2.495

Jubaedah, A. dan Anas, P., 2019. Dampak Pariwisata Bahari terhadap Ekosistem Terumbu Karang di Nusa Penida, Bali. Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan, 13(1): 124–132.

Lin, B., Bearpark, T., Roche, R. C., McGuire, J., Jakub, R., Prabuning, D., Weber, E. U. and Wilcove, D. S., 2026. Causes and Correlates of Unsustainable Scuba Diving Tourism on Coral Reefs. Conservation Letters, 19(3): e70055. https://doi.org/10.1111/con4.70055

Muhidin, Yulianda, F. and Zamani, N. P., 2017. Impact of Snorkeling and Diving to Coral Reef Ecosystem. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 9(1): 315–326.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Coral reef ecosystems. https://www.noaa.gov/education/resource-collections/marine-life/coral-reef-ecosystems

Nafisah, D. A. dan Rosnawati, E., 2026. Perlindungan dan Penegakan Hukum Lingkungan terhadap Kerusakan Ekosistem Laut akibat Aktivitas Pariwisata Bahari. Customary Law Journal, 3(2): 1–15. https://doi.org/10.47134/jcl.v3i2.6270

Oh, D., Cresswell, A. K., Thomson, D. P. and Renton, M., 2025. Do Greater Coral Cover and Morphological Diversity Increase Habitat Complexity? Coral Reefs, 44(1): 257–272.

Purnomo, P. W., Purwanti, F. and Akhmad, D. S., 2022. Coral Reef Conditions at the Snorkeling Spots of the Karimunjawa National Park, Indonesia. Croatian Journal of Fisheries, 80(2): 77–86. https://doi.org/10.2478/cjf-2022-0008

Renzi, J. J., Shaver, E. C., Burkepile, D. E. and Silliman, B. R., 2022. The Role of Predators in Coral Disease Dynamics. Coral Reefs, 41, 405–422. https://doi.org/10.1007/s00338-022-02219-w

Sagala, D., Lautetu, L. M., Prayoga, M. B. R. dan Afla, R. A., 2024. Restorasi Terumbu Karang: Upaya Mempertahankan Kesehatan Ekosistem Laut. Journal of Marine Problems and Threats, 1(1): 1–9. https://doi.org/10.61511/jmarpt.v1i1.2024.465

Zulfikar, Wardiatno, Y. dan Setyobudiandi, I., 2011. Kesesuaian dan Daya Dukung Ekosistem Terumbu Karang sebagai Kawasan Wisata Selam dan Snorkeling di Tuapejat Kabupaten Kepulauan Mentawai. Jurnal Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia, 17(1): 195–203.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *