
Minuca pugnax
yang umumnya dikenal sebagai kepiting biola rawa Atlantik, adalah spesies kepiting biola yang hidup di pantai dan mudah di temukan di zona pasang surut, muara sungai, dan dataran lumpur Indonesia
Pernahkah kamu melihat kepiting yang ukuran capitnya terlihat sangat tidak masuk akal? Kenalkan, Minuca pugnax, spesies kepiting biola rawa (fiddler crab) yang menyimpan banyak keunikan di balik tubuh kecilnya. Kepiting ini sangat mudah dikenali dari capit jantannya yang asimetris,dimana satu capit berukuran normal untuk makan, dan satu lagi berukuran raksasa yang bisa mencapai setengah dari total berat tubuhnya!

Minuca pugnax jantan memiliki lebar karapas 15–23 mm, dan bercak biru tua pada karapas, sedangkan betina tidak memiliki bercak biru tersebut dan hanya memiliki lebar karapas 13–18 mm. Kepiting ini berkembang biak dengan bertelur, biasanya 4–5 hari setelah pasang purnama, selama periode Juni hingga September, setelah itu betina akan mengerami telurnya selama 12–15 hari sebelum melepaskan larva. Larva ini melewati lima tahap zoea planktonik memakan waktu sekitar 28 hari.
Mari Kenal Lebih Jauh
Kata pugnax diambil dari bahasa Latin yang berarti “suka bertarung”, “agresif”, atau “petarung”. Penamaan ini sangat cocok karena merujuk langsung pada kebiasaan kepiting jantan. Capit raksasa ini ibarat senjata sekaligus alat menarik perhatian yang dilambai-lambaikan bagai pemain biola untuk menarik betina atau mengusir pejantan lain dari wilayahnya. Uniknya, memiliki capit raksasa justru membuat sang jantan kesulitan saat makan karena ia hanya bisa mengandalkan satu capit kecilnya untuk menyuap makanan dari sedimen lumpur. Berbicara soal makan, Minuca pugnax adalah seorang deposit feeder sejati. Mereka mengambil lumpur menggunakan capitnya, memisahkan mikroalga dan detritus bergizi di dalam mulut, lalu membuang sisa sedimen bersih berbentuk bola-bola pasir kecil yang tertata rapi di sekitar sarangnya.

Kebiasaan Unik Kepiring ini
Kepiting ini sangat aktif menggali liang di sedimen berlumpur, dan proses pembongkaran tanah inilah yang memberikan dampak luar biasa bagi lingkungan sekitarnya. Aktivitas liang tersebut dapat merangsang pertumbuhan tanaman pesisir, melancarkan siklus hara atau nutrisi, dan bahkan memengaruhi kepadatan populasi organisme kecil (infauna) di dalam tanah. menggali sarang di sedimen berlumpur bertindak sebagai sistem aerasi alami (bioturbasi). Lubang-lubang ini memungkinkan oksigen masuk ke dalam lapisan lumpur yang padat dan anoksik, sehingga membantu menyuburkan akar-akar tanaman pesisir dan menjaga stabilitas lingkungan estuari tempat mereka tinggal.
ㅤ
Referensi:
Johnson, D. S., Crowley, C., Longmire, K., Nelson, J., Williams, B., & Wittyngham, S. (2019). The fiddler crab, Minuca pugnax, follows Bergmann’s rule. Ecology and Evolution, 9(24), 14489-14497.
Minuca pugnax Atlantic marsh fiddler crab https://animalia.bio/minuca-pugnax.
Levinton, J. S., Judge, M. L. and Kurdziel, J. P., 1995, Functional differences between the major and minor claws of fiddler crabs (Uca, family Ocypodidae, order Decapoda, Subphylum Crustacea): A result of selection or developmental constraint: Journal of Experimental Marine Biology and Ecology, v. 193, p. 147-160.
Artikel ini dibuat oleh: Ijaz Azharmahasin (MDC XXX) dan Reisya Arini Putria (MDC XXXI)
Waspada Dira Anuraga!
Merasa belajar hal baru dari artikel ini? sampaikan pendapatmu dikolom komentar‼️👇
