
Sebelum membahas lebih dalam mengenai dampak ekologis yang ditimbulkan, mari kita cermati bagaimana sebuah aktivitas pariwisata yang tampak sederhana dapat memicu perubahan drastis pada ekosistem perairan!
Atraksi Wisata atau Ancaman Ekologis?
Aktivitas pemberian pakan oleh wisatawan (fish feeding) merupakan salah satu bentuk interaksi antropogenik yang secara nyata memengaruhi perilaku alami ikan di kawasan konservasi maupun destinasi wisata bahari. Umumnya, aktivitas ini dimanfaatkan sebagai instrumen atraksi untuk menarik kawanan ikan agar berkumpul di area tertentu, sehingga wisatawan dapat mengamatinya dari jarak dekat. Namun, introduksi pakan buatan secara berulang lambat laun akan merestrukturisasi kebiasaan trofik ikan.
Organisme yang secara alami bergantung pada sumber daya primer lingkungan—seperti alga, plankton, dan bentos—beralih mengonsumsi pakan artifisial yang disediakan oleh manusia. Fenomena ini tidak hanya mengubah pola pencarian makan, tetapi juga memicu agregasi ikan dalam jumlah masif pada titik-titik tertentu. Kondisi tersebut mendistorsi pola persebaran spasial dan kompetisi antarspesies. Lebih lanjut, ikan yang tidak memanfaatkan pakan buatan pun turut terdampak akibat terganggunya ruang jelajah dan efisiensi pencarian pakan alami mereka. Apabila berlangsung secara terus-menerus, praktik ini berpotensi merusak stabilitas jejaring trofik di ekosistem terumbu karang (Prinz et al., 2020).
Sejalan dengan penelitian Prinz et al. (2020) di Laguna Aitutaki, Kepulauan Cook, yang menemukan bahwa pemberian roti oleh wisatawan memengaruhi aktivitas mencari makan ikan karang. Beberapa ikan beralih dari makanan alaminya ke pakan yang diberikan, sedangkan ikan lain yang tidak memakan roti tetap mengalami penurunan aktivitas mencari makan alami selama kegiatan tersebut berlangsung. Penelitian ini menunjukkan bahwa dampak pemberian pakan tidak hanya terjadi pada ikan yang memakannya, tetapi juga dapat memengaruhi perilaku ikan lain dan komposisi spesies yang terlihat di lokasi pemberian pakan.
Kepadatan ikan yang lebih tinggi ditemukan di lokasi wisata yang menerapkan pemberian pakan, sementara kekayaan spesies yang teramati menurun selama kegiatan pemberian pakan berlangsung. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa pemberian pakan dapat menyebabkan ikan berkumpul pada lokasi tertentu dan mengubah komposisi spesies yang terlihat selama aktivitas wisata.
Akar Penyebab Maraknya Praktik Fish Feeding

(BisnisWisata)
Terjadinya fenomena pemberian pakan ikan dalam kegiatan pariwisata bahari tidak muncul begitu saja, melainkan didorong oleh kombinasi antara ekspektasi wisatawan dan komersialisasi industri pariwisata. Memahami faktor-faktor pemicu ini menjadi langkah penting untuk mengidentifikasi dari mana disrupsi perilaku alami ikan ini bermula.
1. Ekspektasi Atraksi Visual
Banyak wisatawan menghendaki interaksi jarak dekat dengan biota laut dalam waktu singkat. Pemandu wisata atau operator lokal akhirnya memanfaatkan fish feeding (menggunakan roti, biskuit, mi instan, atau pelet) sebagai “jalan pintas” untuk memancing kerumunan ikan warna-warni mendekati wisatawan agar foto atau rekaman video yang dihasilkan terlihat spektakuler (Dong 2025).
2. Lemahnya Pengawasan dan Penegakan Aturan
Di banyak destinasi wisata bahari, regulasi mengenai larangan fish feeding belum ditetapkan secara formal, atau jika sudah ada, pengawasan di lapangan masih sangat minim sehingga pelanggaran terus terjadi berulang kali (Syaiful et al., 2023).
Perubahan Perilaku dan Kondisi Biologis Ikan
Ketika pakan buatan manusia terus-menerus diperkenalkan ke lingkungan perairan, dampak negatifnya akan langsung dirasakan oleh biota target. Pemberian pakan buatan secara berkelanjutan memicu transformasi mendasar pada aspek fisiologis, respons pencernaan, hingga pola interaksi harian ikan yang melenceng jauh dari sifat alaminya.
1. Peningkatan Agresivitas dan Perubahan Hierarki Sosial
Praktik fish feeding memicu pergeseran pada perilaku satwa laut. Individu yang di alam liar biasanya bersifat soliter (menyendiri) dan aktif di malam hari dapat meninggalkan pola perilaku aslinya, lalu berkumpul dalam kepadatan yang sangat tinggi di satu area sempit serta membentuk kelompok saat diberi makan. Perubahan lingkungan sosial ini diperkuat oleh temuan Prinz et al. (2020), yang menjelaskan bahwa pemberian pakan buatan secara mendadak membuat ikan-ikan pemangsa berkumpul bersamaan, sehingga terjadi persaingan ketat antar-ikan untuk berebut makanan. Akibat persaingan dan perubahan pola hidup yang tidak alami ini, tingkat stres ikan meningkat dan memicu perilaku agresif, seperti jadi lebih sering saling menggigit dibanding saat mereka hidup liar di alam bebas.
2. Kehilangan Respon Takut
Menurut Prinz et al. (2020), pemberian pakan secara terus-menerus menyebabkan ikan mengalami pembiasaan perilaku, sehingga kewaspadaan atau rasa takut alami mereka terhadap potensi bahaya jadi berkurang. Akibatnya, ikan menjadi terlalu berani dan sering berada di tempat terbuka tanpa perlindungan, sehingga lebih mudah dimangsa oleh predator atau terkena risiko bahaya fisik.
Menikmati keindahan bawah laut seharusnya tidak merusak keaslian alam di dalamnya. Praktik pemberian pakan ikan demi sekadar kepuasan visual atau dokumentasi instan terbukti meninggalkan jejak destruktif bagi perilaku dan struktur ekologis biota laut. Sudah saatnya industri pariwisata bahari beralih ke prinsip sustainable tourism, di mana keindahan laut dinikmati apa adanya tanpa harus mengubah insting liar satwa di habitat aslinya. Karena kelestarian laut hari ini adalah warisan bagi masa depan.
Daftar Pustaka
Dong, Y., 2025. The Impact Of Tourists On The Marine Environment: A Review And Managerial Implications. Regional Environmental Change, 25(2): 49.
Prinz, N., Story, R., Lyon, S., Ferse, S. C. and Bejarano, S., 2020. To Feed Or Not To Feed? Coral Reef Fish Responses to Artificial Feeding and Stakeholder Perceptions in the Aitutaki Lagoon, Cook Islands. Frontiers in Marine Science, 7, 145. https://doi.org/10.3389/fmars.2020.00145
Syaiful, H., Amalia, E. dan Budiartha, I. N., 2023. Analisa Dampak Pengembangan Destinasi Wisata Bahari Pulau Abang Terhadap Masyarakat. Jurnal Mata Pariwisata, 2(1): 16-22.
